Sejarah Tasikmalaya ( bagian 1 )

Posted: 20 Desember 2011 in Tasikmalaya
Tag:, , , , , , , , , ,

PERIODE BATARA DAN KERAJAAN

JAGAT DARANAN DI SANG RAMA

JAGAT DARANAN DI SANG RAMA

JAGAT KRETA DI SANG RESI

JAGAT PALANGKA DI SANG RATU PRABU

Uraian kata tersebut adalah merupakan amanat dari Galunggung yang berarti :

 Sumber kehidupan adalah pada orang tua

Sumber ketentraman adalah pada agama

Sumber ketertiban adalah pada pemerintah.

Trio Rama, Resi, Ratu itu adalah sumber kesejahteraan hidup untuk mengarungi dunia

ini. Jika ketiga hal tersebut di atas kacau, maka kacaulah umat di dunia ini. Juga para penerus kita pun akan mengalami kekacauan/ kegoncangan.

Masa lampau adalah kenangan, tidak berarti mengenang masa lampau kita akan kembali ke masa lampau. Semua kenangan indah itu hanyalah merupakan hiasan indah pada jamannya.

Kebaikan dan keburukan masa lampau dapat diambil hikmah dan manfaatnya untuk dijadikan cermin dan pedoman di masa kini dan merupakan hanca garapan yang harus kita kerjakan sebagai penerusnya. Masa kini adalah perjuangan, perjuangan yang akan menentukan bentuk dan wujud kita sekarang. Perjuangan untuk membuat sejarah yang akan dikenang oleh anak cucu kita di masa mendatang.

LANDASAN PENENTUAN BERDIRINYA TASIKMALAYA

Nama Tasikmalaya tidaklah akan berarti, jika tidak merupakan kelanjutan kehidupan organisasi masyarakat yang teratur dari adanya kehadiran kegiatan manusia yang berdiam di suatu daerah yang kini disebut Tasikmalaya. Nama Tasikmalaya tidaklah akan berarti jika tidak merupakan nama pengikat Wilayah Pemerintahan. Nama Tasikmalaya kini adalah nama penerus dari telah adanya organisasi kemasyarakatan atau Pemerintahan. Tasikmalaya merupakan kelanjutan dari Sukapura. Sukapura merupakan kelanjutan dari Sukakerta, dan Sukakerta merupakan kelanjutan dari pemerintahan yang dulu berpusat di Galunggung.

Menelusuri sejarah Tasikmalaya dari masa sebelum masuknya Islam atau masa kerajaan hingga masa sekarang ini tidak terlepas dari moment sejarah. Terdapat enam moment sejarah yang dijadikan pangkal tolak untuk menentukan berdirinya Tasikmalaya. Sudah barang tentu kadar dari setiap moment tersebut tidak sama, akan tetapi kesemuanya menunjukkan sejarah perjuangan dan perkembangan sejarah Tasikmalaya.

Keenam moment sejarah itu adalah:

  1. Galunggung menurut Prasasti Geger Hanjuang.
  2. Periode Pemerintahan di Sukakerta.
  3. Berdirinya Sukapura dan perkembangannya.
  4. Perpindahan Ibukota Kabupaten Sukapura ke Manonjaya (1834).
  5. Perpindahan Ibukota Kabupaten Sukapura dari Manonjaya ke Tasikmalaya (1 Oktober 1901) yang kemudian diikuti perubahan nama Kabupaten Sukapura menjadi Kabupaten Tasikmalaya (1 Januari 1913).
  6. Tasikmalaya dalam lingkungan Negara Repubilk Indonesia (UU No. 1/1945 tanggal 23 Nopember 1945 dan UU No. 22/1948 tanggal 10 Juli 1948 dan UU No. 11/1950 tanggal 8 Agustus 1950).

GALUNGGUNG MENURUT PRASASTI GEGER HANJUANG

Prasasti Gegerhanjuang rnerupakan prasasti ke 10 yang ditemukan di Jawa Barat. Ia ditemukan oleh K.F. Holle kira-kira pada tahun 1877, kemudian dibawa dan disimpan oleh Dr. Krom pada tahun 1914.Kini masih, terpelihara dan disimpan di Musium Pusat Jakarta dengan nomor inventaris D.26. Pembacaan yang pertama dilakukan oleh K.F.Holle dan hasil bacaannya ditulis dengan judul : Beselliereven steen uit Afdeeling Tasikmalaya Residenties Preanger, TBG 24, 1877 halaman 586.

Prasasti Geger Hanjuang isinya di tulis dalam aksara dan bahasa Sunda buhun yang cukup terang untuk di baca, terdiri atas tiga baris yang telah dikoreksi bacaannya sebanyak dua kali oleh C.M. Pleyte pada tulisannya “Het Jeartal op den Batoe Toelis Nabij Buitenzorg” TBG. 53, 1911 dan oleh Drs.Saleh Danasasmita bersama dengan Drs. Atja hasil bacaannya menjadi:

tra ba i gunna apuy nas

ta gomati sakakala ru mata-

k disusu (k) ku batari hyang pun

Tafsirannya adalah pada tanggal 13 bulan Badrapada tahun 1033 Saka. Rumatak (maksudnya nama sebuah tempat di Galunggung) disusuk oleh Batari Hyang.

Versi lain :

tra ba i gunna apuy na-

sta gomati sakakala rumanta-

k disusu (k) ku batari hyang

pun

Tafsirannya adalah :

Pada hari ke 13 bulan Badra tahun 1033 Saka, Rumantak (selesai) disusuk oleh Batari Hyang (Elis Suryani N.S, “PR” 28/08/10)

Tanggal 13 Badrapada Saka, setelah dihitung sama dengan 21Agustus 1111, yang dimaksud Rumatak ialah nama sebuah tempat di Desa Linggawangi dan selain itu ada tempat yang diberi nama Saung Gede yang dalam sejarah disebut Saung Galah artinya Keraton. letaknya tidak jauh dari Kabuyutan Sanghyang Linggawangi sebuah kebuyutan yang dianggap sakral pada jamannya.

Pengertian “Nyusuk” Peristiwa “Nyusuk” terdapat dalam berita dari tiga Prasasti, ialah : Pertama, dari Batu Tulis Astana Gede Kawali disebut Prabu Wastu Kencana marigi sakuriling dayeuh.

Kedua, dari Batu Tulis Bogor. disebut Sri Baduga Maharaja nyusuk na Pakuan. Dan Ketiga ialah Prasasti Geger Hanjuang ini. Kata nyusuk menurut Pustaka Nagara Kertabumi diartikan amegahing, artinya membuat parit pertahanan di sekeliling pusat kerajaan. Memang betul, bahwa di sekitar itu masih terdapat nama kampung Parigi dan kampung Candi.

Pengertiannya ialah, bahwa pada tanggal 13 Badrapada itu Batari Hyang mengerjakan membuat parit pertahanan keraton di Ibukota Kerajaan Galunggung yang disebut Rumatak, artinya suatu pendirian Kerajaan perubahan dari Kebataraan yang tadinya secara turun temurun berkedudukan sebagai Batara Dangiang Guru Galunggung. Ia disebut Batari Hyang, karena dirinya seorang wanita. Ia cukup unik karena sampai saat ini, di Jawa Barat ialah satu-satunya yang diabadikan dalam prasasti. Lebih unik lagi, sebab diantara raja raja di Jawa Barat yang diberitakan pernah memperkokoh pertahanan Ibukotanya dengan parit, dia pulalah satu-satunya tokoh wanita. Tindakan nyusuk ini tentu diambilnya segera setelah mewarisi tahta Galunggung.

Inilah koreksi tentang Batara Hyang yang pada naskah Hari Jadi Tasikmalaya disebut sebagai Batari yang melantik Sang Lumahing Taman menjadi Prabu di Galunggung.

Hal ini dikoreksi, karena tahunnya menurut Negara Kertabumi tidak cocok. Sang Lumahing Taman atau yang bergelar Ratu Saung Galah Prabu Ragasuci. memerintah pada tahun 1219 – 1225 Saka atau 1297-1303 Masehi.

Berita mengenai Galunggung, dimulai dari berita kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh mulai ada berita tahun, ketika diperintah oleh :

Resi Guru 448 – 490 S = 526 – 567 M

Rajaputra Suralimansakti 448 – 519 S = 568 – 597 M

Kandihawan Rajaresi Dewarja 519 – 534 S = 597 – 612 M

Wrtikandayun Prabu Galuh atau disebut juga Rahyang Ri Menir 534 – 624 S = 6 12 – 702 M

Dari Wrtikandayun Prabu Galuh atau Rahyang Ri Menir inilah diberitakan Galunggung dan Denuh. Rahyang Ri Menir ini diberitakan mempunyai tiga orang putera. Yang sulung karena cacat tanggal giginya, ia disindir dengan sebutan Batara Sempakwaja, ditempatkan menjadi Batara Dangiang Guru di Galunggung, yang kedua, juga cacat menderita hernia, ditempatkan di Denuh dengan sebutan Rahyang Kedul. Yang ketiga ialah Rahyang Mandiminyak yang mewarisi tahta Kerajaan Galuh dan menjadi Raja Galuh. Rahyang Sempakwaja yang kemudian bertugas menjadi Dangiang Guru di Galunggung mempunyai kekuasaan dalam mengabiseka raja. Atau dengan kata lain Raja baru dianggap syah jika telah mendapat persetujuan dari Batara yang bertahta di Galunggung.

Disamping itu ia diberi daerah daerah penunjang (apanage) sebanyak 12 daerah. Galunggung pada waktu itu disebut : “TARAJU JAWADWIPA, TARAJU MAINYA GALUNGGUNG, JAWA MA TI WETAN.” (Pengukuh Pulau jawa itu ialah Galunggung. Jawa ada disebelah timurnya).

Kedudukan Batara di Galunggung yang amat tinggi didukung pula oleh penemuan naskah kuno lain dengan kode Kropak 406, yang isinya menerangkan kurang lebih sekitar tahun 1030-an, datanglah Darmasiksa (Sri Jayabupati) menghadap Batara keturunan Batara Dangiang Guru Sempak Waja, meminta wilayah yang kemudian diberi nama oleh Batara yang berkuasa itu sebagai ‘tempat tinggal Sang Karma’ (Saunggalah). Darmasiksa atau Sri Jayabupati menurut Carita Parahyangan adalah anak dari Sang Lumahing Winduraja. Sedangkan menurut naskah Pangeran Wangsakerta, Jayabupati adalah Raja Sunda ke-20 yang memerintah tahun 1030-1042 (Ekadjati, 2005)

Demikianlah Galunggung disebut sebagai kabuyutan, sebagai ‘sanghyang tapak Parahyangan’ yang sangat dikeramatkan dan dijaga oleh para ‘raja pandita’ (Batara) yang memiliki kekuasaan yang sangat tinggi di atas raja-raja biasa.

Menurut versi lokal, diketahui setidaknya enam orang Batara yang memerintah setelah Batari Hyang tahun 1111, dan tidak diketahui jumlah Batara sebelum masanya.
Para Batara penguasa Galunggung yang dikenal masyarakat lokal diantaranya Batari Hyang, Batara Sempakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, dan Batara Wastuhayu. Versi keluarga R. Anang Daryan Jayadikusumah menambahkan nama Batara Gunawisesa.

Batara Gunawisesa adalah kakak sulung Batara Kuncung Putih. Adik-adik Batara Gunawisesa dari yang tertua hingga yang termuda adalah Wahyu Cakraningrat (makam di Curug Tujuh Galunggung), Ambu Sarigan (makam di Dinding Ari Galunggung), Ambu Hawuk alias Nyi Mas Garsih (makam di Dinding Ari Galunggung), dan Batara Kuncung Putih (makam di Kawah Galunggung).

Urutan Batara yang memerintah kebataraan di Galunggung dimulai dari :

  1. Batara Dangiang Guru Sempak Waja, awal abad ke 8
  2. Batara Kuncung Putih,
  3. Batara Kawindu,
  4. Batara Wastuhayu awal abad ke 12,
  5. Batara Hyang yang mengalami perubahan bentuk kebataraan menjadi kerajaan tahun 1111 bersamaan Raja Sunda di Pakuan yang dijabat pada waktu itu oleh Sang Lumahing Kreta ( 987 – 1077 S = 1065 – 1155 M).
Urutan Raja yang memerintah di Galunggung adalah : 
  1. Batari Hyang (1111 – 1163),
  2. Rakean Darmasiksa (1163 – 1175 M) selama 12 tahun
  3. Prabu Susuhunan Pakuan (1175 – ….) dengan gelar Rakean Darmasiksa Sang Paramarta Mahapurusa Prabu Sanghyang Wisnu.
  4. Ratu Saung Galah Prabu Ragasuci Sang Lumahing Taman, Keprabuan Pakuan dijabat rangkap dan pusat dipindahkan di Galunggung.
  5. Ratu Galung Sakti,
  6. Ratu Sembah Golok,
  7. Ratu Panyosogan Sang Lumahing Gunung Raja,
  8. Sri Gading Anteg.

Galunggung barak diperkirakan pada tahun 1520 an keatas yang diberitakan bahwa Saung Agung pernah diserang Prabu Surawisesa, ketika raja raja daerah mulai kena pengaruh Islam dan mulai ada yang melepaskan diri dengan Pakuan Pajajaran.

Dengan keterangan tersebut di atas maka pada tanggal 21 Agustus 1111 tercatat adanya Pusat Organisasi ketertiban masyarakat dalam bentuk Pemerintahan Galunggung. Klik disini untuk ke bagian 2

Dari berbagai sumber : 1 2 3 4

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s