Sejarah Tasikmalaya (bagian 4)

Posted: 30 Desember 2011 in Tasikmalaya
Tag:, , , , , , , , , , , ,

BUPATI SUKAPURA Ke – IX Tahun 1837-1844
Rd. Tumenggung Danoeningrat

Sepeninggalan Kg. Adipati Wiradadaha VIII, pada tahun itu juga R. Tumenggung Danoeningrat putra Kg. Adipati Wiratanoebaja ke 12 menjadi bupati, namun tidak sampai mendapat gelar atas kebijaksanaannya, karena pada tanggal 4 Januari 1844 wafat,  jenazahnya dimakamkan di Tanjung Malaya. Beliau menikah dengan Nyi Rd. Tajoem putri Rd. Soemabrata dari Panjalu dan mempunyai putra-putri 13 orang yaitu :

1. R. Rangga Wiradimanggala,
2. Rd. Wiradiredja
3. Rd. Rangga Tanoewangsa
4. Nyi Rd. Jogjaningrum
5. Nyi Rd. Ratnanagara
6. Nyi Rd. Radjakoesoemah
7. Rd. Danoekoesoemah
8. Rd. Dg. Pranawangsa
9. Nyi Rd. Sariningsih
10 Nyi Rd. Arsanagara
11. Nyi Rd. Bradjadiguna
12. Nyi Rd. Moenaningroem
13. Rd. Soebiakoesoemah

BUPATI SUKAPURA Ke – X Tahun 1844-1855
Rd. Rangga Wiradimanggala / Kg. Rd. Tumenggung Wiratanoebaja.

Yang menjabat bupati kemudian adalah putra sulungnya yang bernama R. Ranggawiradimanggala, yang kemudian namanya diganti menjadi Kg. R. Tumenggung Wiratanoebaja, yang mengikuti nama dari buyut Kg. Dalem Parakanmuntjang ke III.
Menjabat sebagai bupati selama 12 tahun kemudian wafat tanggal 6 Juni 1855, jenazahnya di Tanjung Malaya, dan tidak mempunyai putra-putri.
Setelah wafat, Kg. Dalem sering disebut “Dalem Soemeren”. Jabatan kemudian diserahkan ke adiknya yang bernama R. Tanoewangsa.

BUPATI SUKAPURA Ke – XI Tahun 1855-1875
Rd. Rangga Tanoewangsa / Rd. Wiratanoebaja / Rd. Adipati Wiraadegdaha.

Pada hari Selasa tanggal 11 September 1855, R. Rangga Tanoewangsa dilantik dan diganti menjadi R. Wiratanoebaja. Ditahun 1872 mendapat gelar Adipati dan diganti namanya menjadi R. Adipati Wiraadegdaha.
Pada masa beliau, pemerintah mulai memberlakukan aturan pajak tanah yang dimusyawarahkan oleh 7 Bupati di seluruh Priangan ditahun 1869; yang dipimpin oleh komisaris Jendral P.K.T. Otto van Rees (Gubernur Jendral Hindia Belanda; 1884-1888).
Setelah hasil musyawarah dikirimkan ke 2 e Kamer, pada bulan Juli 1871, peraturan pajak tanah di Priangan diberlakukan. Jasa Kg. Bupati kepada negara serta isinya sangatlah besar dibanding yang lainnya, bukan hanya dari segi kesejahteraan negara tetapi juga dari segi penyempurnaan adat serta tata krama dan juga besar jasanya dalam memajukan pembangunan.
Pada tahun 1875 beliau mendapat musibah yang disebabkan oleh peraturan pajak tanah sampai diberhentikan dengan hormat. Untuk beberapa tahun beliau tidak diperkenankan tinggal di tempat kelahirannya tetapi di tempatkan di Bogor dan diberi pensiun f. 300 setiap bulannya.
Itu sebabnya Kg. Dalem sering disebut “Dalem Bogor”. Ditahun 1908 Kg. Dalem Bogor diperkenankan kembali ke Manonjaya, hingga beliau wafat di tahun 1912. Jenazahnya dimakamkan di Tanjung Malaya. Beliau mempunyai putra-putri sebanyak 34 orang yaitu :

1. Rd. Danoeningrat
2. Nyi Rd. Patimah
3. Nyi Rd. Saribanon
4. Rd. Waktoero
5. Rd. Anhar
6. Nyi Rd. Parinaningrat
7. Rd. Alibasah
8. Rd. Kosasih
9. Rd. Timoer
10 Rd. Rangga Wiratanoewangsa
11. Rd. Asikin
12. Rd. Tasik
13 Rd. Badar
14. Nyi Rd. Radja
15. Nyi Rd. Oerpijah
16. Nyi Rd. Timoer
17. Nyi Rd. Mintarsah
18. Nyi Rd. Mintarsih
19. Rd. Adjrak
20. Nyi Rd. Soehaerah
21. Nyi Rd. Oerpinah
22. Nyi Rd. Pandji
23. Rd. Soedjana
24. Nyi Rd. Soekaenah
25. Nyi Rd. Soekaesih
26. Nyi Rd. Soehaeni
27. Rd. Soemanagara
28. Rd. Widjanggana
29. Rd. Soemitra
30. Rd. Bradjanagara
31. Nyi Rd. Resna
32. Rd. Herdis
33. Nyi Rd. Bintang
34. Rd. Panris

BUPATI SUKAPURA Ke – XII Tahun 1875-1901
Rd. Danoekoesoemah / Rd. Adipati Wirahadiningrat.

Setelah berhentinya Kg. Dalem Adipati Wiraadegdaha ditahun 1875, jabatannya diganti oleh adiknya yang bernama R. Demang Danoekoesoemah, patih Manonjaya dan setelah menjabat bupati namanya diganti menjadi R. Tumenggung Wirahadiningrat.
Beliau adalah Bupati terakhir di kabupaten Manonjaya, beliau juga termasuk Bupati yang rajin, sabar, adil, bijaksana, termasyur sebagai Bupati yang paling baik.
Jasa beliau oleh pemerintah ditahun 1893 diberi gelar Adipati, tahun 1898 mendapat “Bintang Payung Kuning” dan ditahun 1900 dianugrahkan bintang “Oranje Nassau”. Itulah sebabnya sering disebut “Dalem Bintang”.

Pada tahun itu juga beliau mendapat surat perintah resmi untuk memindahkan kabupaten ke Tasikmalaya, namun sepertinya dari pesan leluhur ada peribahasa “Galunggung Ngadek Tumenggung”, beliau tidak ada maksud menduduki kabupaten baru, sebab sudah melewati gelar Tumenggung, maka secara mendadak setelah menerima surat perintah itu beliau jatuh sakit sampai wafat.

Rd. Danoekoesoemah/Rd. Adipati Wirahadiningrat/Dalem Bintang, mempunyai putra-putri sebanyak 19 orang yaitu :

1. Rd. Dg. Soekmamidjaja
2. Nyi Rd. Lembana
3. Nyi Rd. Lasmini
4. Rd. Tumenggung Wiradipoetra
5. Nyi Rd. Tresnasih
6. Nyi Rd. Roekansih
7. Nyi Rd. Toersini
8. Nyi Rd. Soengkawati
9. Rd. Tranggana/R. Mintragna ?
10 Nyi Rd. Mimarsih
11. Nyi Rd. Amiarsih
12. Nyi Rd. Oeminah
13 Nyi Rd. Basoewarna
14. Rd. Tumenggung Aria Soenarya
15. Nyi Rd. Atimah
16. Nyi Rd. Amiarsih
17. Nyi Rd. Dinawasih
18. Nyi Rd. Moetiarsih
19. Nyi Rd. Dinarsih

Masa perpindahan Ibukota Kabupaten Sukapura dari Manonjaya ke Tasikmalaya (1 Oktober 1901) yang kemudian diikuti perubahan nama Kabupaten Sukapura menjadi Kabupaten Tasikmalaya (1 Januari 1913).

BUPATI SUKAPURA Ke – XIII Tahun 1901-1908
Rd. Rangga Wiratanoewangsa / Rd. Tumenggung Aria Prawira Adiningrat

Dengan berhentinya Kg. Adipati Wirahadiningrat pada tahun 1901, kedudukannya digantikan oleh putra saudaranya yaitu putra Kg. Dalem Bogor yang bernama R. Rangga Wiratanoewangsa, Patih Manonjaya. Setelah memegang jabatan Bupati namanya diganti menjadi R. Tumenggung Prawira Adiningrat.

Sebagai Bupati Sukapura XIII dan merupakan bupati pertama yang berkedudukan di Tasikmalaya. Akhirnya, pada tanggal 1 Oktober 1901, ibukota kabupaten Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke Tasikmalaya, pemindahan ibukota ini karena pertimbangan ekonomi bagi pemerintahan Hindia Belanda.

Beliau menjabat bupati hanya selama 7 tahun dan tidak lama sejak mendapat gelar “Aria”, ditahun 1908 beliau wafat, ketika sedang berobat di Cianjur. Itu sebabnya mengapa Kg. Bupati sering disebut “Dalem Aria”.
Beliau mempunyai putra-putri sebanyak 17 orang yaitu :

1. Nyi Rd. Dewi
2. Nyi Rd. Retna
3. Rd. Adipati Wiratanoeningrat
4. Nyi Rd. Ajoe Radjamirah
5. Rd. Kandjoen
6. Rd. Rg.Prawiraadiningrat (Aom Rio)
7. Rd. Kd. Wiratanoewangsa
8. Rd. Hasan Affandi
9. Rd. Hoesen Affandi
10. Rd. Ponpon Prawiraadiningrat
11. Rd. Prawiraadiningrat (Aom Dikdik)
12. Rd. Soele Prawiraadiningrat
13. Rd. Soekiman
14 Nyi Rd. Marsijah
15. Nyi Rd. Siti Patimah
16. Rd. Daroessalam
17. Rd. Awam

BUPATI SUKAPURA/TASIKMALAYA Ke- XIV Tahun 1908 – 1937
Bupati pertama di Tasikmalaya Rd. Adipati Wiratanoeningrat ( Aom Soleh )

R. Adipati Wiratanoeningrat

Raden Adipati Wiratanoeningrat bersama istri. Tahun 1920. Koleksi KITLV

Setelah wafatnya Kg. Aria, yang menjabat sebagai Bupati Sukapura pada tanggal 23 Agustus 1908, adalah putra sulungnya yang bernama R.A. Wiratanoeningrat.
Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat pada saat sebelum menjadi Bupati Sukapura, menjabat Sebagai Wedana wilayah Ciheulang.
Pada tahun 1901 kabupaten Sukapura mengalami perubahan besar, yaitu wilayah Mangunreja serta Tasikmalaya sebagian ditiadakan.
Dari wilayah Mangunreja yang dimasukkan ke Sukapura hanya diwilayah Mangunreja, Dedetaraju, Sukaraja, Karang dan Parung. Sisanya yaitu wilayah Cikajang, Batuwangi, Kandangwesi, Nagara digabungkan ke kabupaten Limbangan (Garut).
Dari wilayah Tasikmalaya yang masuk ke Sukapura hanyalah wilayah Tasikmalaya, Ciawi, Indihiang dan Singaparna. Sedangkan wilayah Malangbong dibagikan ke dua kabupaten, yaitu sebagian ke kabupaten Limbangan (Garut) dan sebagian ke kabupaten Sumedang.
Pada tahun 1910 daerah dibawah kabupaten ini tinggal 14 distrik.
Pada tahun 1913 nama Kabupaten Sukapura diganti Menjadi Tasikmalaya hingga kini. Daerah bawahannya tinggal 10 wilayah. Atas putusan Bestuurservorming pada tahun 1925, Tasikmalaya menjadi ibukota Keresidenan Priangan Timur, tetapi pada tahun 1931 Keresidenan itu mengalami perubahan lagi.
Dengan kejadian tersebut sering timbul pertanyaan apakah itu pertanda yang menyebabkan “Sukapura Ngadaun Ngora”.
Agak sulit untuk menjawab pertanyaan ini, namun bila mengingat kepada cerita para sepuh dahulu yang menyebutkan; Bila Rawa Lakbok dengan hutan belantaranya sudah menjadi sawah, negara akan pindah ke Banjar.
Yang merubah Rawa Lakbok dan hutan belantaranya menjadi persawahan yang amat luas adalah Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat. Atas jasa beliau rawa yang luasnya kurang lebih 30.000 ha, hutan yang begitu lebatnya sekarang telah menjadi persawahan yang begitu suburnya.

Meskipun sekarang ditempat bekas Rawa Lakbok dan Hutan belantaranya itu belum ada batu marmer yang ditulis dengan huruf emas, yang bertuliskan nama Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat, namun akan selalu teringat oleh rakyat yang mendapatkan penghasilan dari sawah yang sebelumnya adalah rawa, itu tidak akan hilang untuk selama ratusan tahun.
Anak cucu rakyat yang mendapatkan kesejahteraan dari jasa Kg. Bupati akan mengetahui dari cerita nenek dan kakeknya bahwa yang membuka Rawa Lakbok serta hutan belantaranya bernama Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat, Bupati keturunan leluhur Sukapura, dan penuturan cerita itu terus disampaikan secara turun-temurun.
Selain karena tersohor membuka Rawa Lakbok, sebenarnya masih banyak lagi jasa Kg. Bupati kepada rakyatnya, yaitu membuka persawahan, perkebunan yang ada di Banjar, Kawasen, Padaherang, Pamarican, atau ringkasnya cerita bahwa tempat-tempat yang tadinya masih rawan serta hutan belantara sekarang atas jasa Kg. Bupati yang tidak pernah mengingat kepada kesusah-payahannya, merubah semua itu menjadi persawahan hijau dan perkebunan palawija yang luas dan bermanfaat pada kehidupan rakyatnya di wilayah bawahan beliau.
Tidak hanya sampai disitu perhatian beliau kepada rakyatnya, kesemua itu juga dijaga oleh beliau dari bahaya yang akan merusak pertanian, yaitu membasmi segala binatang perusak.
Meneliti kehidupan rakyatnya bukan hanya dengan cara pertanian, tetapi juga dengan jalan memajukan bermacam koperasi dagang dari batik, tenun, anyaman dan peternakan. Malah dari usaha memajukan peternakan kuda dan sapi, beliau mendirikan perkumpulan yang dinamai “Sangiang Kalang” dan “Lembu Andini”.

Untuk menolong segala keperluan yang membutuhkan modal, beliau membentuk suatu perkumpulan yang tidak asing lagi bagi semua orang, yaitu “Pakoempoelan Doeit Hadiah” (PDH)
Dengan pengumpulan dana dari perkumpulan ini, bukan hanya digunakan untuk menolong orang yang membutuhkan modal untuk berdagang dan bertani saja, namun juga digunakan untuk menolong orang yang ingin melanjutkan sekolah di sekolah menengah dan sekolah atas.
Diantaranya ada yang telah diberikan bantuan untuk yang sedang bersekolah di Geneescundige Hooge School di Betawi dan di Militaire Academi di Breda.

Meningkatkan pendidikan kerakyatanya itu tidak saja kepada pendidikan duniawi, namun juga pada keagamaan. Bukan hanya puluhan, namun ratusan madrasah yang pernah didirikan oleh kiai-kiai yang dipelopori oleh Kg. Bupati.
Untuk menyatukan para kiai agar selalu sejalan dan setujuan, oleh beliau diikat dalam suatu perkumpulan yang diberi nama “Idharu Biatil Muluki Wal Umaro”, yang artinya tunduk pada pimpinan, patuh pada pemerintah serta jajarannya.
Anggota dari perkumpulan tersebut ada 1.350 kiai, belum termasuk lagi yang bukan golongan kiai.
Untuk keperluan rakyat agar memudahkan dan melancarkan hubungan mata pencahariannya, Kg. Bupati tidak berdiam diri, secara seksama membangun beberapa jembatan-jembatan. Diantara jembatan yang termasyur;

Jembatan Gantung Kawat jalan ke Ciwarak
Jembatan Gantung Kawat jalan ke Linggasari
Jembatan Gantung Kawat jalan ke Talegong
Jembatan Gantung Kawat jalan ke Leuwi Budah-Tanjung
Jembatan Gantung Kawat jalan ke Cigugur
Jembatan bambu beralas besi di Mangunjaya (sangat disayangkan jembatan ini tidak sampai selesai karena diterjang banjir kali Ciseel).

Selain itu, beliau pernah bermaksud pula untuk membangun suatu rumah fakir miskin Islam yang dibiayai dari sebagian pendapatan zakat fitrah untuk fakir miskin, yang biasanya dikumpulkan dari orang-orang setahun sekali, namun karena terpikirkan oleh beliau, aturan ini tidak bermanfaat bagi fakir miskin, sebab sumbangan dari perorangan itu tidak akan mencukupi.

Atas jasa Kg. Bupati yang begitu besarnya, pemerintah tidak ragu, berdasarkan surat P.K.T. Goepernoer Djendral tanggal 21 Agustus 1920, No. 1, diberi gelar “Adipati”, ditambah lagi surat P.K.T. Besar tanggal 24 Agustus 1922, No. 39, beliau menerima bintang dalam “Officer de Order van Orangje Nassau” dan menurut surat Goepernoemen tanggal 21 Agustus 1926, No, 13, diberikan lagi “Gele Songsong”.

Kebijaksanaan Kg. Bupati didalam keunggulannya mengolah negara, berdasarkan arsip surat-surat yang ditemukan dari 23 Agustus 1908-23 Agustus 1933. Pada masa inilah selama 25 tahun Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat menjabat sebagai Bupati.

Melihat pada kebijaksanaan beliau sebagaimana yang telah dianugerahkan oleh berbagai kehormatan yang tersebut diatas tadi, tepat sekali seumpama nama beliau dicatat didalam arsip Pemerintahan Hindia Belanda, diperuntukan bagi putra-putranya yang beliau sayangi.

Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat dilahirkan pada tanggal 19 Febuari 1878, di Nanggrang, wilayah Taraju. Ibunya bernama R. Ajoe Ratna Puri. Putri sulung dari Kg. Dalem Tumenggung Aria Prawira Adiningrat (Dalem Aria), bupati ke XIII, cucu Kg. Dalem Adipati Wiraadegdaha (Dalem Bogor), buyut Kg. Dalem Tumenggung Danoeningrat bupati IX.

Nama Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat ialah Aom Saleh. Sepeninggal Kg. Ibu, pada usia 8 bulan, beliau diasuh oleh eyang sepupu, Kg. Dalem Adipati Wirahadiningrat (Dalem Bintang) bupati ke XIII, sewaktu usianya 8 tahun pada saat ayahnya Kg. Dalem Aria menjadi wedana di Jampang Wetan, disekolahkan disekolah Belanda di Sukabumi selama 2 tahun, kemudian dipindahkan kesekolah Belanda di Bogor.
Setelah 2 tahun lamanya belajar disekolah itu, saat umur 12 tahun beliau lalu masuk kesekolah menak (Hoofden-School) di Bandung sampai tahun 1896.
Menurut surat residen Priangan Schappen tanggal 5 April 1897, No. 2932/8, beliau ditugaskan sebagai Joeroe Serat Controluer Bandung Utara, dan kurang lebih 3 tahun, juga berdasarkan surat Kg. Resident yang tersebut diatas tertanggal 5 Oktober 1901, No. 12937/8, menerima pengangkatan menjadi asisten wedana di Andir, wilayah Ujung Berung Barat, daerah Bandung.

Setelah kurang lebih 7 tahun memegang jabatan tersebut diatas, berdasarkan surat Goepernemen tertanggal 12 Febuari 1908, No. 28, beliau menerima pengangkatan menjadi wedana di wilayah Cihelang daerah Sukabumi.

Hanya 7 bulan beliau menjabat diwilayah tersebut, dengan keputusan pemerintah yang telah dijanjikan dalam pembangunan, mengolah serta mengatur urusan pemerintahan, maka berdasarkan surat Goepernement tertanggal 23 Agustus 1908, No. 2, beliau diangkat menjadi Bupati di Sukapura.

Istri beliau, bernama Rd. Ayoe Radja Pamerat, dilahirkan pada tanggal 3 Januari 1893. Ibunya bernama R. Ayoe Tedja Pamerat, putri R. Djajadiningrat, pensiunan wedana Jampang; cucu Kg. Dalem Adipati Martanagara, bupati Bandung; buyut Kg. Dalem Koesoemahjoeda, wilayah kabupaten Sumedang.

Putra-putri Kg. Dalem Adipati Wiratanoeningrat ada 19, yang nama-namanya adalah sebagai berikut :

1. Nyi R. Roekiah
2. Nyi R. Tarqijah
3. Rd. Djaelani
4. Nyi R. Soehaemi
5. Nyi R Siti Fatmah Koeraesin
6. R. Achmad Moh. Harmaen
7. R. Moh. Ali
8. R. Moh. Fatah Djoebaedi
9. R. Moh. Hasan Rahmat
10 R. Moh. Husein Rahmat
11. Nyi R. Djoebaedah
12. Nyi R. Siti Rahmah
13 Nyi R. Koerniasih
14. Rd. Abdul Kadir
15. Nyi R. Siti Roekiah
16. R. Abdoel Moehjidin
17. R. Abdoellah
18. R. Sapei
19. R. Abdoellah Solichin

Para Bupati Residen Priangan

Para Bupati Residen Priangan berphoto bersama Istri di Bandung pada tahun 1912. Duduk dari kiri ke kanan : Bupati Sukapura/Tasikmalaya R. Toemenggoeng Wira Tanoeningrat, Bupati Garut R. Adipati Aria Wiratanoedatar, Bupati Sumedang Pangeran Soeriaatmadja, Bupati Bandung RAA Martanagara, dan paling kanan mungkin Bupati Cianjur.

Dari kiri ke kanan : Residen Priangan Timur, Raden Toemenggoeng Wira Tanoeningrat, Gubernur Jendral/Residen Priangan, Patih dan Wedana Tasikmalaya.

BUPATI TASIKMALAYA Ke – XV Tahun 1938-1944                                                  Rd. Tumenggung Wiradipoetra

Setelah bupati ke XIV wafat, melalui proses musyawarah, penggantinya adalah Rd. Tumenggung Wiradipoetra, putra Dalem Bintang. Pengangkatan Bupati berdasarkan surat dari pemerintah No. 16. Diberi gelar Adipati, beristri R. Bentang Radja putra Dalem Bogor.Dari sumber lain => Karena mulai masuknya Pendudukan Jepang dan dirasakan banyak terjadinya guncangan di masyarakat dan pemerintah di kabupaten Tasikmalaya, beliau menyerahkan kepemimpinan kepada pemerintah pada waktu itu. Sehingga beliau dikenal dengan Dalem Sumeren. Beliau di kebumikan di Tanjungmalaya.

BUPATI TASIKMALAYA Ke – XVI Tahun 1944-1947                                                   R. Tumenggung Aria Soenarya

Berdasarkan permintaan Kg. Dalem Adipati Wiradipoetra untuk berhenti dan pensiun, Pemerintah pada waktu itu menunjuk adik Kg. Dalem Adipati Wiradipoetra yang bernama R. Tumenggung Aria Soenarya (sebelumnya Bupati Ciamis), putra dari bupati ke XII, R. Tumenggung Wirahadiningrat.

Bupati ke XVI ini terkenal dengan bupati seniman. Karena beliau pencipta Gending karesman “Lutung Kasarung” dan pensiun pada tahun 1947.
Karena turut serta merintis kemerdekaan Republik Indonesia, beliau mendapat pensiun serta penghargaan dari Pemerintah Indonesia. Beliau dikebumikan di Tanjungmalaya. Serta namanya diabadikan untuk salah satu jalan dalam wilayah Tasikmalaya.

BUPATI TASIKMALAYA Ke – XVII Tahun 1947-1949                                           Raden Tranggana /Rd. Tumenggung Wiradipoetra

Pada masa pemerintahan R. Tumenggung Aria Soenarya, pertengahan th. 1947 terjadilah perang kolonial dan untuk menghindari kekacauan maka Raden Tumenggung Sunarya beserta keluarga mengungsi ke Lebak Siuh. Dengan perginya beliau maka terjadilah kekosongan pemerintahan. Belanda pun berusaha mencarinya namun tdk ditemukan. Sampai akhirnya Belanda menemukan Raden Tumenggung Wiradiputra mantan Bupati sebelumnya yg tlh lanjut usia di tempat pengungsian di daerah selatan Manonjaya tepatnya di Cadas Beulah. Maka Mantan Bupati tsb diangkat kembali menjadi Bupati Tasikmalaya untuk yang kedua kalinya. (sumber)

Dengan kepindahan R. Tumenggung Aria Soenarya ke Bandung, maka jabatan bupati digantikan lagi oleh R. Tumenggung Wiradipoetra (adalah bupati Sukapura ke XV).
Pada tahun 1949 Dalem Wiradipoetra mengajukan pensiun, beliau adalah bupati Sukapura/ Tasikmalaya keturunan Dinasti Wiradadaha terakhir. (sumber) ( lihat selanjutnya disini)

Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s